Jumat, 26 Maret 2010

Kursus Asas Gerak Tari Melayu

video

Senin, 08 Februari 2010

"Kalimantan Barat Punye Seni Budaye"


“Kalimantan Barat Punye Seni Budaye” adalah sebuah refleksi untuk kembali mengingatkan kepada kita tentang kekayaan seni budaya yang ada, tumbuh, hidup dan berkembang di Kalimantan Barat.

Seni budaya yang terwarisi turun-temurun, dengan berbagai dinamika perkembangannya yang pasang surut, adalah sebuah tempaan seni budaya itu untuk selalu dapat bertahan dan selalu membuat inovasi-inovasi untuk terus tumbuh, hidup dan berkembang.

Era modern saat ini juga sangat mempengaruhi corak dari perwujudan seni budaya yang dihasilkan. Khasanah seni budaya global dari seluruh penjuru dunia pada akhirnya juga akan mempengaruhi dan berkontribusi dalam memberikan corak pada seni budaya di daerah Kalimantan Barat.

“Kalimantan Barat Punye Seni Budaye” bukanlah sebuah upaya untuk mempertahankan atau membela mati-matian seni budaya milik Kalimantan Barat.

“Kalimantan Barat Punye Seni Budaye” adalah sebuah gambaran dari seluruh seni budaya dari mana saja asalnya yang ada, tumbuh, hidup dan berkembang di Kalimantan Barat, baik itu tradisi, kreasi, modern ataupun kontemporer. Semua itu dirangkul dan menjadi investasi yang luar biasa bagi perkembangan seni budaya di Kalimantan Barat.

Visit KalBar 2010 adalah momentum dalam pemberdayaan seni budaya yang ada di Kalimantan Barat sebagai aset yang dapat memberikan kontribusi pada pembangunan di daerah Kalimantan Barat khususnya pada bidang seni, budaya dan pariwisata.

Kegiatan “Kalimantan Barat Punye Seni Budaye” yang insyaallah akan kami selenggarakan setiap satu bulan sekali selama satu tahun di tahun 2010 ini adalah sebuah kegiatan yang akan menampilkan atraksi kesenian yang selama ini kami olah di Perguruan Kijang Berantai Sanggar Gita eSHa Khatulistiwa (GESKA).

Tentunya kegiatan ini baru gambaran kecil saja dari begitu beragamnya seni budaya yang dimiliki oleh Kalimantan Barat. Untuk itu kami Perguruan Kijang Berantai Sanggar Gita eSHa Khatulistiwa (GESKA) mengajak teman-teman pekerja/pelaku seni, seniman Kalimantan Barat untuk bersama-sama menampilkan seni budayanya yang selama ini mereka geluti sesuai dengan konsentrasi seni yang dipilihnya.

Dukungan dari berbagai pihak memang sangat diperlukan tetapi yang penting adalah tindakan nyata dalam kontribusi kita sebagai masyarakat seni pertunjukan pada pelestarian dan pengembangan seni budaya di Kalimantan Barat.

Dukungan itu sudah nyata ada sekarang karena kita berhasil membuktikan dengan perbuatan nyata. Saat ini pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat telah begitu konsen memberikan dukungan bagi pelestarian dan pengembangan seni budaya Kalimantan Barat. Dukungan langsung diberikan bagi individu maupun komunitas seni yang betul-betul memiliki semangat dan daya juang tinggi dalam melestarikan dan memajukan seni budaya di Kalimantan Barat.

Sarana prasarana penunjang untuk mempresentasikan hasil seni budaya yang diolah oleh seniman/pekerja/pelaku seni secara bertahap dibangun, diperbaiki dan dan ditata ulang oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat, agar lebih memberikan kesan yang menarik sehingga pengunjung akan banyak berdatangan untuk menyaksikan atau menikmati beragam hasil karya seni budaya yang dihasilakan oleh para seniman/pekerja/pelaku seni di Kalimantan Barat. Salah satu contoh nyata yang sedang dibangun dan diperbaiki serta akan ditata ulang saat ini adalah lokasi di Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat yang merupakan tempat berkumpulnya para seniman/pekerja/pelaku seni di Kalimantan Barat.

Dukungan juga begitu besar diberikan oleh pihak media cetak dan elektronik yang peduli atas pelestarian dan pengembangan seni budaya Kalimantan Barat di antaranya adalah TVRI KALBAR, RRI Pontianak, Borneo Tribune, Ruai TV dan Radio-radio swasta yang ada di kota Pontianak.

Kedepan tentunya dukungan dari berbagai pihak masih sangat diperlukan. Kerjasama yang saling menguntungkan kiranya perlu dirumuskan agar dapat saling bersinergi dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan seni budaya di Kalimantan Barat.

Launching kegiatan “Kalimantan Barat Punye Seni Budaye” telah diresmikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat Bapak Drs. Kamaruzzaman, MM di panggung terbuka Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat bersamaan dengan Pesta Rakyat dalam rangka memperingati HUT Pemda Kalimantan Barat ke- 53 dan Pembukaan Parade Teater oleh FORMAT tanggal 30 Januari 2010.

Untuk 11 bulan kedepan kegiatan “Kalimantan Barat Punye Seni Budaye” selain akan diselenggarakan di panggung terbuka Taman Budaya Kalimantan Barat juga akan diselenggarakan dibeberapa tempat di kota Pontianak seperti di Panggung terbuka TVRI Kalbar, Ayani Megamal, Taman Alun Kapuas, Plaza MTQ UNTAN, Area Tugu Khatulistiwa dan tempat lain yang banyak dikunjungi masyarakat Kalaimantan Barat khususnya Kota Pontianak dan para wisatawan baik dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Kota Pontianak Kalimantan Barat.

“Kalimantan Barat Punye Seni Budaye” yang diselenggarakan oleh Perguruan Kijang Berantai Sanggar Gita eSHa Khatulistiwa (GESKA), hanyalah satu upaya kecil untuk kembali mengingatkan kepada kita begitu banyaknya kekayaan seni budaya di Kalimantan Barat yang harus terus dipelihari, dilestarikan dan dikembangkan secara bersama-sama oleh seluruh masyarakat Kalimantan Barat.

Maju seni budaya Kalimantan Barat dan salam budaya !!!

Tertanda,

Ketua Panitia “Kalimantan Barat Punye Seni Budaye”

Perguruan Kijang Berantai Sanggar Gita eSHa Khatulistiwa (GESKA)

ISMUNANDAR, SH.,S.Sn

Kamis, 24 Desember 2009

Beberapa Prestasi Sanggar Tari GESKA

1. Festival Indonesia, Melbourne, Australia, 21-26 Oktober 2009, Tim Kesenian

2. China Asian Expo, Nanning (RRT), 16-23 Oktober 2009, Tim Kesenian

3. Festival Kesenian Musik Tradisional Anak-Anak, 2-5 Juli 2009, Gedung Kesenian Jakarta dan mendapatkan penghargaan sebagai Pemateri Musik Terbaik.

4. Festival Musik Tradisonal Anak-Anak, 12 Juni 2009, Taman Budaya Kalbar dan mendapatkan pengharagaan sebagai Penyaji Terbaik dan Pemusik Terbaik.

5. Festival Prajurit Nusantara, 2 November 2008, TMII Jakarta sebagai Peserta.

6. Festival Kemilau Nusantara, 24-26 Oktober 2008, Bandung Jawa Barat, sebagai Peserta.

7. Borneo Culture Festival 2008, Sibu, Serawak, Malaysia. 3-5 Juli 2008, Tim Kesenian.

8. Sound Of Borneo, Bintulu, Serawak, Malaysia, 27-30 Juni 2008, sebagai Peserta.

9. Tim Kesenian FKIP UNTAN ke University Brunei Darussalam, 18-24 November 2007.

10. Tim Kesenian BIMP-EAGA III, Travel Exchange, Kuching, Serawak, Malaysia. 2-4 November 2007.

11. Internasional Dance Festival, 18-21 Agustus 2007, Kuching, Serawak, Malaysia, sebagai Peserta.

12. Tim Kesenian Kalimantan Barat, Bunga Rampai Produk Indonesia Untuk Indonesia, 13-15 Juli 2007, Jakarta.

13. Event Organizer, GESKA Art Festival, 16-19 Agustus 2006, Pontianak.

14. Event Organizer, Kijang Berantai Art Festival, 23-26 Maret 2005, Pontianak.

15. Borneo Cultural Festival 2005, Sibu, Serawak, Malaysia. 2 – 9 July 2005, Tim Kesenian.

16. Finalis Lomba Koreografi Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta, ‘RECHT’ karya Ismunandar, SH.,S.Sn., Graha Bhakti Budaya TIM, 13 -14 Desember 2004.

17. Acara Kesenian, BIMP-EAGA, Pendopo Gubernur, 31 Agustus 2004.

18. Juara II Tk. Propinsi, Lomba Olahraga Tradisional ‘Ngamben Satria’, Museum Negeri Pontianak, 29 Agustus 2004.

19. Acara Kesenian, Seminar MIPA se Indonesia, Pendopo Gubernur, 28 Juli 2004.

20. Prosesi Penyambutan, Power Seminar Tianshi, Pontianak Convention Centre, 18 Juli 2004.

21. Acara Kesenian, Pembukaan Festival Barongsai se Borneo, GOR Pangsuma Pontianak, 17 Juli 2004.

22. Prosesi Pembukaan dan Penyambutan, Pameran Mitra Binaan BUMN, Pontianak Convention Centre, 29 Juni 2004.

23. Prosesi Penyambutan Menteri Kelautan, Angkatan Laut Pontianak, 2 April 2004.

24. Acara Kesenian, Invitasi Pencak Silat Indonesia – Malaysia, GOR Pangsuma Pontianak, 25 Maret 2004.

25. Acara kesenian, HUT Kavaleri ke 54, BEKANG Pontianak, 9 Februari 2004.

26. Paket Acara Syukuran Pembukaan Kabupaten Sekadau, Sekadau, 2 Februari 2004.

27. Prosesi Penyambutan dan Tari Persembahan Penobatan Sulthan Pontianak, Keraton Kadriah Pontianak, 15 Januari 2004.

28. Tim Kesenian, Festival Film Indonesia dan Travex Road Show di Afrika Selatan, 19 – 27 November 2003.

29. Acara Kesenian, Pembukaan BIMP EAGA II – Travel Exchange Pontianak Kalimantan Barat, September 2003.

30. Tim Kesenian, Hari Keputeraan Sultan Brunei Darussalam ke-57, Brunei Darussalam, 6 Agustus 2003.

31. Tim Kesenian, Pesta Gendang Nusantara ke-6 di Malaka Bandaraya Bersejarah – April 2003 dan menjadi pengisi Puncak Acara.

32. Tari Massal, HUT ABRI ke-57 di Pontianak, Kalimantan Barat, 5 Oktober 2002.

33. Gelar Budaya dan Pameran Persatuan Nasional dalam rangka HUT RI ke-57, Senayan Jakarta – Agustus 2002 dan mendapat penghargaan sebagai Kelompok Tari terbaik, Penari Putra terbaik dan Tari terbaik.

34. Malam Renungan 17 Agustus (HUT Kemerdekaan RI ke-57) di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 16 Agustus 2002.

35. Undangan Dewan Kesenian Jakarta dalam rangka promosi budaya ke sekolah–sekolah se Jakarta– Agustus 2002.

36. Tari Massal, HUT KOREM Alambanawanawai, Pontianak Kalimantan Barat, 31 Juli 2002.

37. Tim Kesenian, Pesta Kesenian Bali ke-23, Denpasar Bali – Juli 2001.

38. Penyaji dan Penata Tari terbaik dalam seleksi Tari Tingkat Propinsi Kal-Bar 2001.

39. Tim Kesenian, Festival Nusa Dua II Bali, Nusa Dua Bali – September 2000.

40. Tim Kesenian, HUT ABRI di Balikpapan Kalimantan Timur, Oktober 2000.

41. Tim Kesenian, Travel Market di Jakarta Convention Centre Jakarta, September 1999.

42. Tim Kesenian, GKJ Awards di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta September 1999.

43. Event Organizer, Pargelaran ‘SAHABAT’ dan Lomba Tari Kreasi Daerah Tingkat SLTP/SMU se Kalimantan Barat di Taman Budaya Kalimantan Barat , Agustus 1999.

44. Event Organizer, Pargelaran ‘Negeri Cintaku’ di GOR Pangsuma Kalimantan Barat, Oktober 1998.

45. Penyaji dan Penata Tari terbaik dalam Festival Borneo, Maret 1999 di Banjarmasin

46. Tim Kesenian, BIMP EAGA EXPO 1995 di Brunei Darussalam

47. Beberapa Prestasi kategori anak-anak di bidang Tari dan Musik untuk tingkat Nasional yang diperoleh tahun 2005-2006.

48. Beberapa Pertunjukkan di kota-kota lain di Indonesia dan Malaysia.

49. Event Tahunan yaitu Kalimantan Barat Art Festival yang diadakan 2 tahun sekali dan Gelar Tari Daerah dan Kreasi yang diadakan 1 tahun sekali

50. Selain itu Sanggar Tari Gita eSHA Khatulistiwa juga mengisi acara untuk Prosesi - Resepsi Pernikahan ( Kalimantan Barat, Jakarta, Bandung dan Sibu, Bintulu, Serawak Malaysia ) juga sebagai Event Organizer untuk beberapa acara.

Sejarah Musik Tradisional

Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, dipertahankan sebagai sarana hiburan. Tiga komponen yang saling mempengaruhi di antaranya Seniman, musik itu sendiri dan masyarakat penikmatnya. Sedangkan maksudnya untuk memper-satukan persepsi antara pemikiran seniman dan masyarakat tentang usaha bersama dalam mengembangkan dan melestarikan seni musik tradisional. Menjadikan musik trasidional sebagai perbendaharaan seni di masyarakat sehingga musik tradisional lebih menyentuh pada sektor komersial umum.

Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, dipertahankan sebagai sarana hiburan. Tiga komponen yang saling mempengaruhi di antaranya Seniman, musik itu sendiri dan masyarakat penikmatnya. Sedangkan maksudnya untuk memper-satukan persepsi antara pemikiran seniman dan masyarakat tentang usaha bersama dalam mengembangkan dan melestarikan seni musik tradisional. Menjadikan musik trasidional sebagai perbendaharaan seni di masyarakat sehingga musik tradisional lebih menyentuh pada sektor komersial umum.

Pengertian Musik Tradisional atau Musik Nusantara
Musik Nusantara adalah seluruh musik yang berkembang di Nusantara ini, yang menunjukkan atau menonjolkan ciri keindonesiaan, baik dalam bahasa maupun gaya melodinya. Musik Nusantara terdiri dari musik tradisi daerah, musik keroncong, musik dangdut, musik langgam, musik gambus, musik perjuangan, dan musik pop.
Sejarah Musik Nusantara
Terdapat tahapan- tahapan perkembangan musik Indonesia (nusantara). tahapan tersebut adalah sebagai berikut.


Masa sebelum masuknya pengaruh Hindu- Buddha
Pada masa ini, musik dipakai sebagai bagian dari kegiatan ritual masyarakat. Dalam beberapa kelompok, bunyi- bunyian yang dihasilkan oleh anggota badan atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Instrumen atau alat musik yang digunakan umumnya berasal dari alam sekitarnya.

Masa setelah masuknya pengaruh Hindu- Buddha
Pada masa ini, berkembanglah musik- musik istana (khususnya di Jawa). saat itu, musik tidak hanya dipakai sebagai bagian ritual saja, tetapi juga dalam kegiatan- kegiatan keistanaan (sebagai sarana hiburan para tamu raja). Musik istana yang berkembang adalah musik gamelan. Musik gamelan terdiri dari 5 kelompok, yaitu kelompok balungan, kelompok blimbingan, kelompok pencon, kelompok kendang,dan kelompok pelengkap.

Masa setelah masuknya pengaruh Islam
Selain berdagang dan menyebarkan agama islam, para pedagang arab juga memperkenalkan musik mereka. Alat musik mereka berupa gambus & rebana. dari proses itulah muncul orkes- orkes gambus di nusantara (Indonesia) hingga saat ini.

Masa Kolonialisme
Masuknya bangsa Barat ke Indonesia juga membawa pengaruh besar dalam perkembangan musik Indonesia. Para pendatang ini memperkenalkan berbagai alat musik dari negeri mereka, misalnya biola, selo (cello), gitar, seruling (flute), dan ukulele. Mereka pun membawa sistem solmisasi dalam berbagai karya lagu. Itulah masa- masa perkembangan musik modern Indonesia. Saat itu,para musisi Indonesia menciptakan sajian musik yang merupakan perpaduan musik barat dan musik Indonesia . Sajian musik itu dikenal sebagai musik keroncong.

Masa Kini
Seiring dengan masuknya media elektronik ke Indonesia,masukpula berbagai jenis musik barat, seperti pop, jazz, blues, rock, dan R&B. demikian pula dengan musik- musik negeri India yang banyak dibawa melalui film- filmnya. Dari perkembangan ini, terjadi perpaduan antara musik asing dengan musik Indonesia. Musik India mengalami perpaduan dengan musik melayu sehingga menghasilkan jenis musik dangdut. Maka, muncul pula berbagai musisi Indonesia yang beraliran pop, jazz, blues, rock, dan R&B. Berkembang pula jenis musik yang memadukan unsur kedaerahan Indonesia dengan unsur musik barat, terutama alat- alat musiknya. Jenis musik ini sering disebut musik etnis.


Fungsi Musik Nusantara
Secara umum, fungsi musik bagi masyarakat Indonesia antara lain sebagai sarana atau media upacara ritual, media hiburan, media ekspresi diri, media komunikasi, pengiring tari, dan sarana ekonomi.
Sarana upacara budaya (ritual)

Musik di Indonesia, biasanya berkaitan erat dengan upacara- upacara kematian, perkawinan, kelahiran, serta upacara keagamaan dan kenegaraan. Di beberapa daerah, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu, instrumen seperti itu dipakai sebagai sarana kegiatan adat masyarakat.

Sarana Hiburan
Dalam hal ini, musik merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas harian, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang pertemuan dengan warga lainnya. Umumnya masyarakat Indonesia sangat antusias dalam menonton pagelaran musik. Jika ada perunjukan musik di daerah mereka, mereka akan berbondong- bondongmendatangi tempat pertunjukan untuk menonton.

Sarana Ekspresi Diri
Bagi para seniman (baik pencipta lagu maupun pemain musik), musik adalah media untuk mengekspresikan diri mereka. Melalui musik, mereka mengaktualisasikan potensi dirinya. Melalui musik pula, mereka mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, dan cita- cita tentang diri, masyarakat, Tuhan, dan dunia.

Sarana Komunikasi
Di beberapa tempat di Indonesia, bunyi- bunyi tertentu yang memiliki arti tertentu bagi anggota kelompok masyarakatnya. Umumnya, bunyi- bunyian itu memiliki pola ritme tertentu, dan menjadi tanda bagi anggota masyarakatnya atas suatu peristiwa atau kegiatan. Alat yang umum digunakan dalam masyarakat Indonesia adalah kentongan, bedug di masjid, dan lonceng di gereja.

Pengiring Tarian
Di berbagai daerah di Indonesia, bunyi- bunyian atau musik diciptakan oleh masyarakat untuk mengiringi tarian- tarian daerah. Oleh sebab itu, kebanyakan tarian daerah di Indonesia hanya bisa diiringi olehmusik daerahnya sendiri. Selain musik daerah, musik- musik pop dan dangdut juga dipakai untuk mengiringi tarian- tarian modern, seperti dansa, poco- poco, dan sebagainya.

Sarana Ekonomi
Bagi para musisi dan artis professional, musik tidak hanya sekadar berfungsi sebagai media ekspresi dan aktualisasi diri. Musik juga merupakan sumber penghasilan. Mereka merekam hasil karya mereka dalam bentuk pita kaset dan cakram padat (Compact Disk/CD) serta menjualnya ke pasaran. Dari hasil penjualannya ini mereka mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain dalam media kaset dan CD. Para musisi juga melakukan pertunjukan yang dipungut biaya. Pertunjukan tidak hanya dilakukan di suatu tempat, tetapi juga bisa dilakukan di daerah- daerah lain di Indonesia ataupun di luar Indonesia.

Ragam Musik Nusantara
Ragam musik di Indonesia dapat dibedakan atas musik tradisi, musik keroncong, musik dangdut, musik perjuangan, dan musik pop.

Musik Daerah/Tradisional
Musik daerah atau musik tradisional adalah musik yang lahir dan berkembang di daerah- daerah di seluruh Indonesia. Ciri khas pada jenis musik ini teletak pada isi lagu dan instrumen (alat musiknya). Musik tradisi memiliki karakteristik khas, yakni syair dan melodinya menggunakan bahasa dan gaya daerah setempat. Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari Papua hingga Aceh. Dari sekian banyaknya pulau beserta dengan masyarakatnya tersebut lahir, tumbuh dan berkembang. Seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari masyarakat pendukungnya.
Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Hampir seluruh seni tradisional Indonesia mempunyai semangat kolektivitas yang tinggi sehingga dapat dikenali karakter khas orang/masyarakat Indonesia, yaitu ramah dan sopan. Namun berhubung dengan perjalanan waktu dan semakin ditinggalkanya spirit dari seni tradisi tersebut, karekter kita semakin berubah dari sifat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan menjadi individual/egoistis. begitu banyaknya seni tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia, maka untuk lebih mudah mengenalinya dapat di golongkan menjadi beberapa kelompok yaitu alat musik/instrumen perkusi, petik dan gesek.

Instrumen Musik Perkusi
Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik permainannya di pukul, baik menggunakan tangan maupun stik. Dalam hal ini beberapa instrumen musik yang tergolong dalam alat musik perkusi adalah, Gamelan, Arumba, Kendang, kolintang, tifa, talempong, rebana, bedug, jimbe dan lain sebagainya.

Gamelan
Gamelan adalah alat musik yang terbuat dari bahan logam. Gamelan berasal dari daerah Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur juga di Jawa Barat yang biasa disebut dengan Degung dan di Bali (Gamelan Bali). Satu perangkat gamelan terdiri dari instrumen saron, demung, gong, kenong, slenthem, bonang dan beberapa instrumen lainnya. Gamelan mempunyai nada pentatonis/pentatonic.

Talempong
Talempong adalah seni musik tradisi dari Minangkabau/Sumatera Barat. Talempong adalah alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, ti, do)

Kolintang
Kolintang atau kulintang berasal dari daerah Minahasa/ Sulawesi Utara. Kolintang mempunyai tangga nada diatonis/diatonic yang semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis. Bahan dasar untuk membuat kulintang adalah kayu. Cara untuk memainkan alat musik ini di pukul dengan menggunakan stik.

Arumba
Arumba (alunan rumpun bambu) berasal dari daerah Jawa Barat. Arumba adalah alat musik yang terbuat dari bhan bambu yang di mainkan dengan melodis dan ritmis. Pada awalnya arumba menggunakan tangga nada pentatonis namun dalam perkembangannya menggunakan tangga nada diatonis.

Kendang
Kendang adalah sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan. Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia. Di Jawa barat kendang mempunyai peraanan penting dalam tarian Jaipong. Di Jawa Tengah, Bali, DI Yogyakarta, Jawa timur kendang selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi, tari, wayang, ketoprak. Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias. Rebana adalah jenis gendang yang ukuran bervariasai dari yang kecil hingga besar. Rebana adalah alat musik yang biasa di gunakan dalam kesenian yang bernafaskan Islam. Rebana dapat di jumpai hampir di sebagian wilayah Indonesia.

Instrumen Musik Petik
Kecapi adalah alat musik petik yang berasal dari daerah Jawa Barat. Bentuk organologi kecapi adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/senar, kotak kayu tersebut berguna sebagai resonatornya. Alat musik yang menyerupai Kecapi adalah siter dari daerah Jawa tengah.

Sasando adalah alat musik petik berasal dari daerah Nusa tenggara timur (Timor) kecapi ini terbuat dari bambu dengan diberi dawai/senar sedangkan untuk resonasinya di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah bulatan.

Sampek (sampe/sapek) adalah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar berasal dari daerah kalimantan. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang di penuhi dengan ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang bentuknya menyerupai sampek adalah Hapetan daerah Tapanuli, Jungga dari daerah Sulawesi Selatan.

Instrumen Musik Gesek
Instrumen musik tradisional yang menggunakan teknik permainan digesek adalah Rebab. Rebab berasal dari daerah Jawa barat, Jawa Tengah, Jakarta (kesenian betawi). Rebabb terbuat dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai tangga nada pentatonis. Instrumen musik tradisional lainnya yang mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat dari tempurung kelapa, rebab jenis ini dapat dijumpai di bali, Jawa dan kalimantan selatan.

Instrumen Musik Tiup
Suling adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari bambu. hampir semua daerah di indonesia dapat dijumpai alat musik ini. Saluang adalah alat musik tiup dari Sumatera Barat, serunai dapat dijumpai di sumatera utara, Kalimantan. Suling Lembang berasal dari daerah Toraja yang mempunyai panjang antara 40-100cm dengan garis tengah 2cm.

Tarompet, serompet, selompret adalah jenis alat musik tiup yang mempunyai 4-6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong. Seni musik tradisi yang menggunakan alat musik seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Papua.

Musik Keroncong
Secara umum, musik keroncong memiliki harmoni musik dan improvisasi yang sangat terbatas. Umumnya lagu- lagunya memiliki bentuk dan susunan yang sama. Syair- syairnya terdiri atas beberapa kalimat (umumnya 7 kalimat) yang diselingi dengan permainan alat musik.

Musik Dangdut
Musik dangdut merupakan hasil perpaduan antara musik India dengan musik Melayu, musik ini kemudian berkembang dan menampilkan cirinya yang khas dan berbeda dengan musik akarnya. Ciri khas musik ini terletak pada pukulan alat musik tabla (sejenis alat musik perkusi yang menghasilkan bunyi ndut). Selain itu, iramanya ringan, sehingga mendorong penyanyi dan pendengarnya untuk mengerakkan anggota badannya. Lagunya pun mudah dicerna, sehingga tidak susah untuk diterima masyarakat.

Musik Perjuangan
Musik ini lahir dari kondisi masyarakat Indonesia yang sedang terjajah oleh bangsa asing. Dengan menggunakan musik, para pejuang berusaha mengobarkan semangat persatuan untuk bangkit melawan penjajah. Syair- syair yang diciptakan pada masa itu, umumnya berisi ajakan untuk berjuang, ajakan untui berkorban demi tanah air, dan sebagainya. Irama musiknya pun dibuat cepat dan semangat, serta diakhiri dengan semarak.

Musik Populer (pop)
Musik ini memiliki ciri, antara lain penggunaan ritme yang terasa bebas dengan mengutamakan permainan drum dan gitar bas. Komposisi melodinyajuga mudah dicerna. Biasanya, para musisinya juga menambahkan variasi gaya yang beraneka ragam untuk menambah daya tarik dan penghayatan pendengar atau penontonnya. Musik pop dibedakan menjadi musik pop anak- anak dan musik pop dewasa.


Kesimpulan :
Musik nusantara adalah seluruh musik yang berkembang di nusantara, yang menunjukkan ciri keindonesiaan. Musik memiliki fungsi sebagai sarana atau media ritual, media hiburan media ekspresi diri, media komunikasi, pengiring tari, dan sarana ekonomi. Ragam musik nusantara yang berkembang dapat dibedakan menjadi musik tradisi, musik keroncong, musik dangdut, musik perjuangan, dan musik pop.


Dikutip dari :
http://sendhie.multiply.com/journal/item/46/Perkembangan_Musik_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Musik_tradisional

Sabtu, 22 Agustus 2009

Seniman Bali Protes Klaim Tari Pendet Oleh Malaysia



Masyarakat, seniman Bali dan sesepuh penari Bali memprotes klaim Malaysia atas tari pendet. Mereka meminta Malaysia untuk segera mencabut tari pendet dari iklan pariwisata megri jiran tersebut. Protes ini mereka tuangkan dalam sebuah pegelaran tari pendet di Art Center, Jl Nusa Indah, Denpasar, Bali, Sabtu (22/8/2009).
Tampak hadir dalam pagelaran itu, I Wayan Dibia, dan Luh Arini penggubah tari pendet versi tontonan. Hadir pula Anggota DPD RI asal Bali Ida Ayu Agung Mas. "Kita prihatin asal diklaimnya tari pendet yang berasal dari Bali oleh Malaysia.
Kami anggota DPD, masyarakat, seniman dan sesepuh penari Bali meminta agar Malaysia mencabut tari pendet dalam iklan-iklan mereka," ujar Ida Ayu Agung Mas di sela-sela aksi. Menurut Ida Ayu, dalam waktu dekat pihaknya melayangkan protes pada Malaysia melalui DPD RI dan pemerintah RI. "Masyarakat Bali siap membantu pemerintah untuk mendata ulang berbagai kesenian yang ada di Indonesia," ungkapnya.
Dalam pagelaran tersebut, Luh Arini tampil membawakan tarian pendet bersama dengan dua penari cilik. Puluhan pengunjung art center, tampak antusias menyaksikan pagelaran ini.


dikutip dari : detik.com - Sabtu, 22 Agustus 2009

Rabu, 24 Juni 2009

Selayang Pandang

SANGGAR TARI GITA eSHa KHATULISTIWA

Sanggar Tari Gita eSHa Khatulistiwa (GESKA) pada awalnya bernama Sanggar Tari Kijang Berantai, berdiri pada tanggal 1 Agustus 1994 di Pontianak, merupakan bagian dari Perguruan Kijang Berantai Kalimantan Barat. Sanggar Tari ini dipimpin oleh Ibu Syarifah Hapsah Djuhardi, dan sebagai Pelindung – Pembina serta Penasihat ialah Bapak Haji Djuhardi, Haji Alwi (Maha Guru Kijang Berantai).

Sanggar Tari Gita eSHa Khatulistiwa (GESKA) sebagai organisasi/lembaga yang bergerak pada bidang kesenian khususnya seni tari, di dalam bentuk pengelolaan seninya menitikberatkan pada pengolahan seni tari daerah Kalimantan Barat baik itu Melayu ataupun Dayak.

Sanggar Tari Gita eSHa Khatulistiwa sejak berdirinya telah beberapa kali mewakili daerah Kalimantan Barat pada acara-acara kesenian/kebudayaan (lomba/festival) yang diselenggarakan di beberapa daerah di Indonesia dan juga di beberapa negara di luar Indonesia.

Sanggar Tari Gita eSha Khatulistiwa (GESKA) dalam komitmennya pada pelestarian seni khususnya seni tari daerah Kalimantan Barat kaitannya dengan perkembangan zaman, juga melakukan pengembangan-pengembangan dalam bentuk karya tari baru dengan tetap memperlihatkan cirri khas/identitas daerah agar mampu tumbuh dan hidup seiring dengan perubahan zaman.